Dugaan bahwa kategori nomor (5) di alinea berikut #PeringkatIndonesia buruk karena hutangnya banyak perlu dikesampingkan. Dugaan bahwa harapan hidup di Indonesia dengan damai dan sehat hingga tua (2) juga perlu dikesampingkan. Dugaan bahwa polusi karbon (6) di Indonesia masih tertolong hutan tropis dsb, juga sangat perlu dikesampingkan. Inilah tulisan fakta riset World Economic Forum tentang Indonesia. Ingat Indonesia lumayan juara mispersepsi Per definisi pakai bahasa (diupayakan) sederhana, Indeks Pembangunan Inklusif (IBI) bicara apakah kebijakan struktur dan kelembagaan sebuah perekonomian sudah pro pada: (1) Penciptaan lapangan pekerjaan, (2) Harapan hidup sehat, (3) Sedikit orang miskinnya, (4) Merata kemakmurannya, (5) Sedikit proporsi hutang negaranya, dan (6) Polusi karbonnya dari ekonominya minimal. Ini baru sebagian dari sub pilar dan pilar lainnya, untuk teknisnya dapat menjadi bahan diskusi lebih jauh. Memakai kategori peringkat 'Di Kelas' a la aba-amba maka ...
Versi baru dari jargon yang terkenal beberapa dekade lalu, saat ini kondisi pikiran dan tindakan serta perilaku warga Indonesia khususnya Jabotabek atau Jakarta dapat dijelaskan dengan tiga kata ini. Hasil dari santai seolah serius (lk. sama dengan santai tapi serius) adalah Peringkat Daya Saing Indonesia yang hanya di peringkat 34 (dari 140) negara, perkembangan kebudayaan, kesenian dan olah raga yang begitu-begitu saja, prospek generasi muda yang satu hingga tiga dekade lagi akan jadi ujung tombak produktivitas negara yang tak berjalan kemana-mana, kualitas pendidikan tinggi sebagai bukti kecerdasan dari generasi terpilih yang stagnan di rentang itu-itu saja, pertambahan penghasilan negara atau rata-rata setiap warganya yang tidak membawa kemaslahatan bangsa lebih secara relatif dibanding saat teritori ini belum bernama Indonesia bebapa abad lalu. Penjelas dari kebiasaan santai seolah serius ini, secara santai, mau tak mau adalah warga Jakarta (yang bisa diperluas ke kumpulan...