Skip to main content

Posts

PeringkatIndonesia: Indeks Pembangunan Inklusif #20/42,↘︎8

Dugaan bahwa kategori nomor (5) di alinea berikut #PeringkatIndonesia buruk karena hutangnya banyak perlu dikesampingkan. Dugaan bahwa harapan hidup di Indonesia dengan damai dan sehat hingga tua (2) juga perlu dikesampingkan. Dugaan bahwa polusi karbon (6) di Indonesia masih tertolong hutan tropis dsb, juga sangat perlu dikesampingkan. Inilah tulisan fakta riset World Economic Forum tentang Indonesia. Ingat Indonesia lumayan juara mispersepsi Per definisi pakai bahasa (diupayakan) sederhana, Indeks Pembangunan Inklusif (IBI) bicara apakah kebijakan struktur dan kelembagaan sebuah perekonomian sudah pro pada: (1) Penciptaan lapangan pekerjaan, (2) Harapan hidup sehat, (3) Sedikit orang miskinnya, (4) Merata kemakmurannya, (5) Sedikit proporsi hutang negaranya, dan (6) Polusi karbonnya dari ekonominya minimal. Ini baru sebagian dari sub pilar dan pilar lainnya, untuk teknisnya dapat menjadi bahan diskusi lebih jauh. Memakai kategori peringkat 'Di Kelas' a la aba-amba maka ...

Santai Seolah Serius (3S)

Versi baru dari jargon yang terkenal beberapa dekade lalu, saat ini kondisi pikiran dan tindakan serta perilaku warga Indonesia khususnya Jabotabek atau Jakarta dapat dijelaskan dengan tiga kata ini. Hasil dari santai seolah serius (lk. sama dengan santai tapi serius) adalah Peringkat Daya Saing Indonesia  yang hanya di peringkat 34 (dari 140) negara, perkembangan kebudayaan, kesenian dan olah raga yang begitu-begitu saja, prospek generasi muda yang satu hingga tiga dekade lagi akan jadi ujung tombak produktivitas negara yang tak berjalan kemana-mana, kualitas pendidikan tinggi sebagai bukti kecerdasan dari generasi terpilih yang stagnan di rentang itu-itu saja, pertambahan penghasilan negara atau rata-rata setiap warganya yang tidak membawa kemaslahatan bangsa lebih secara relatif dibanding saat teritori ini belum bernama Indonesia bebapa abad lalu. Penjelas dari kebiasaan santai seolah serius ini, secara santai, mau tak mau adalah warga Jakarta (yang bisa diperluas ke kumpulan...

Penghasilan/Kepala Orang Indonesia = Orang ..(negara)... di Tahun ....

Misalnya tetangga serumpun, Malaysia pada tahun 1994 (22 tahun sebelumnya) telah miliki penghasilan/kepala warganya $10.569 hampir sama dengan data orang Indoesia terakhir (2016) yang $10.511. Amerika Serikat pernah alami Great Depression, ingat tahunnya? 1929. Saat itulah negara ini juga sama dengan Indonesia 2016 penghasilan/kepalanya. 87 tahun sebelumnya Thailand. 2007 (9 tahun sebelumnya, selanjutnya disingkat th.sb.) Singapura? 1983 (33 th.sb.) di $10.733 Australia. 1936 (80 th.sb.) $ 10.652 Jepang. 1968 (48 th.sb.) Belanda. 1961 (55 th.sb.) Untuk selengkapnya, mari lihat pengelompokan per tahun ataupun dekade berikut ini. Menarik untuk melihat hingga bawah standar kehidupan rata-rata yang sama dengan negara Indonesia kurang lebih sudah dialami negara lain ini sebelum-sebelumnya. Penghasilan/Kepala Orang Indonesia = Orang ..(negara)... di Tahun .... 2016: Bosnia dan Herzegozina 2015: Sri Lanka 2014: Albania; Namibia 2013: Ekuador; Peru 2012: China; Mongolia...

Penghasilan per Kepala Orang Indonesia 1820 s.d. 2016

Mari utak-atik alat dari  https://ourworldindata.org  terkait negara Indonesia. Wow kan grafik pertumbuhan penghasilan per kepalanya?   Di 1815 sebelum bernama Indonesia. Teritori ini tercatat berpenghasilan per kepala warganya $755 per tahun (angka ini sudah disesuaikan inflasi dan menggunakan harga di tahun 2011) atau Rp10.050.205,94 per tahun atau Rp837.517,16 per bulan dengan  kurs hari ini.  Pertama menyentuh angka $1.000 di 1881 yaitu $1.034 (= Rp13,8 juta ) per thn atau Rp1,15 juta per bulan.  Terdekat sesudah proklamasi adalah data di 1949 yaitu $1.064 (= Rp14,2 juta )  per tahun atau Rp1,18 juta per bulan; ini turun dari puncak data terakhir 1941 $1.666 (= Rp22,2 juta ) per tahun atau Rp1,85 juta per bulan.  $2.000  pertama di 1974 |$2.026 (= Rp27,0 juta )/thn| Rp2,25 juta /bln. Ini 93 tahun sejak $1.000 pertama.  20 tahun kemudian menyentuh $4.000 pertama | 1994 |$4.018(= Rp53,5 juta )/thn| Rp4,46 juta /bln. ...

Indonesia Melihat Media (dibanding 37 negara lainnya)

% yang mengatakan media pemberitaan sangat-baik/cukup-baik dalam melaporkan berita secara akurat sumber: pewglobal.org Indonesia (ke)sayang(an) media Dalam empat kategori utama laporan Pew Research Center tanggal 11 Januari 2018 tentang berita media dari survei di 38 negara, Indonesia selalu ada di empat teratas dalam menjawab pertanyaan utama " % yang mengatakan media berita mereka melakukan dengan sangat-baik/cukup-baik  dalam melaporkan ... " di empat kategori utama: ...isu politik secara adil : responden Indonesia ada di peringkat empat dengan 77% mengatakan media berita melakukan pemberitaan terkait isu politik secara adil dengan sangat/cukup baik. Terendah Korea Selatan 27% dan Yunani 18%. Median 38 negara hanya 52% . ...berita tentang pimpinan dan pejabat pemerintahan: Indonesia ada di peringkat dua dengan 85%. Median 59%. ...berita secara akurat:  Indonesia ada di peringkat  tiga  dengan  85%. Median 62%. ...peristiwa berita paling ...

Notes on Everyday's Dumbs

Let's face the fact. You live in majority dumbs' city or country. Want to know how?  Say, you deny to wait in line in dumbly long, fully line in train ticket vending machine and choose to rotate the station to the booth across the railway that most of the time empty of queue. This time it's staffed with human, seem like a smart move right? Yes, it cuts off some in-lining time unless  this (human) staff still in the white and black attire with no attributes uniform, then it is a dumb one. How is it dumb? can't perform a task of filling-in the electronic ticket card the right way,  claiming that he is right, asking whether the card you give is yours (you definitely know since  it's been with you the past year and from the serial number you remember), ordering the client to perform a tapping out for a four days-old trip, then charging the client for new card since the old one is, well, error! while you're sure the last time you use that train you get out ...

Kegamangan Sang Bahasa

Sumber foto: https://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian_language. Mengutip riset pimpinan Prof. Dr. J. W. de Vries dari  the University of Leiden  di Belanda  Ini bahasa dengan potensi penutur lebih dari 1/4 miliar mulut dan bibir, namun entah mengapa ada kemungkinan bahasa ini termasuk yang akan terhapus dari daftar. KBBI indikator pertamanya. Pembaruan dalam kamus besar ini seperti berjalan sangat lambat. Entah berapa banyak birokrasi dan persetujuan serta kegaduhan dibuat sekedar untuk memasukkan satu kata atau mungkin frase ke dalamnya. Dijajah kelambanan. Kota sebagai pusat kemajuan menuntut segala hal selalu terbarukan jika tidak, toh ada desa tempat kehidupan sederhana yang hanya mendiskusikan hal-hal mendasar (ya, mungkin sedikit hal-hal berbau supranatural dan filosofis). Tak terlalu diperlukan misalnya padanan dari struktur kompleks bidang kedokteran, keuangan atau teknologi di sana. Kota tak begitu, sementara memakai istilah rumit sesuai bahasa asal han...

Indonesia, Perils of Perceptions. Mispersepsi dari Keramaian

Ok. Anda bertanya pada rekan tentang smartphone dan ia berkata, "saya tak punya" lalu Anda berkata, "gak mungkin!" Ternyata Anda melebih-lebihkan berapa banyak penduduk Indonesia yang punya. Kira-kira 85 dari 100 orang akan dianggap punya setidaknya satu smartphone. Faktanya, kelebihan 65. Hanya 21 dari 100 yang punya. Dan Indonesia 'ngaco' tertinggi di dunia untuk kategori ini. Selanjutnya di simbol kebebasan, akses dan prestise: mobil. Coba tebak dari 100 orang Indonesia, berapa yang punya mobil? 77? Hmm, ini juga kelebihan banyak. Hanya 41 yang punya. Orang Jepang naik kereta dan gak punya mobil? Faktanya 72 dari 100 punya. Si biru yang sudah 2 miliar. Facebook. Dari 100 berapa yang punya? Kurang lebih 81% dari orang Indonesia >13 tahun punya. Salah hanya 28 saja. Lanjut tentang Surga, Neraka dan Tuhan. Ah paling tinggal 85% orang Indonesia yang percaya Surga faktanya 99% dan selamat Indonesia salah duga tiga terbawah namun te...

Vibe of the City

photo sources: http://www.100resilientcities.org/resources/ Yes. This is not the city in one of the developed country with high level of literacy; whether in the basic definition of literacy, of cultural, international belongingness, financial literacy of simply just literate in terms of really reading the religious (chosen) transcripts with thorough understandings and efforts. In learns to tolerate, to settle disputes, to show who's in charge. On the other side it still has a burden of that old souls or the past power syndrome sufferers and the slowly--try to be cool like one the popular doctrines says to be--unplugged the cord of <<The Matrix>> alike or on the plugging in action to announce that they are exist, though momentarily the shadow fade away. Existence of the crowd while by zooming out process crowds are just irrelevant dots. Another zoom out, merely they are just traces of dust that can only cause the inhalers to sneeze or behind sought into dark mat...

Cultural Escape

  Though the life portrayed in J-drama is a work of fiction but the careful planning and implied cultural reality in the background are something to cheered upon. Heartwarming. The word that often comes up when people discuss about this specific genre. The result, less exaggerated drama through lots of unnecessary shouting or misplaces rain shower of tears. J-drama such as Sunao ni Narenakute (Hard to Say I Love You) gives a new type of love drama where you will blood stream from ordinary people characters trying make a bold statement that they need to be heard. While it is on a thriller drama. Carefully planned, J-drama often gives a delight pre-anticipated response from the audience. It's like when you know the surprise center in a mint candy but you enjoy the treat still. Touches the corner of your bored over own cultural product's heart. This neat orchestra of life flow of a seemed to be a literature translated to on screen performance with a bibliothèque sorted from...

Shaf Sholat Berjamaah, Bangku Kereta dan Menjadi Muslim

Photo: The Muslim Show Saat kebetulan sholat berjamaah, yang saya coba terapkan adalah: 1. mengabaikan garis samping sajadah. 2. membuat garis hayal di belakang berdirinya imam, jika berada di kanan beliau, maka berusaha menempelkan lengan atas dengan rekan berjamaah di sebelah kiri, lalu lebar kaki mengikuti lebar torso. Begitu sebaliknya. 3. risikonya (saat di kanan garis imam) ada celah kosong dari rekan berjamaah di kiri. Hanya berharap ybs rela menggeser mendekat. Saat kebetulan duduk di bangku panjang kereta, yang saya coba terapkan adalah: 1. memperhatikan garis hayal kain jok kereta (kebanyakan KRL diperuntukkan untuk 7 orang) 2. duduk sesuai lebar garis hayal ini (cetaknya ada di senderan jok), lebar celah dengkul dan celah telapak mengikuti lebar torso. 3. risikonya saat ada penumpang dengan badan lebih lebar, atau massa paha lebih besar atau yang meluaskan alpha power range-nya (atau karena tertidur) dengan melebarkan celah dengkul lebih le...

Rencana Indonesia Menjadi Bank Sentral Bagi Kreditur di Industri Keuangan Islam Global

Sumber grafik : Laporan EY 2013, didapat dari laman http://conversableeconomist.blogspot.co.id/2014/12/snapshots-of-islamic-banking.html Di Turki dikenal  participation banking  yang kurang lebih serupa dengan perbankan syariah. Dengan mekanisme   participation banking , nasabah yang mengajukan pembiayaan atas sebuah barang akan membeli barang tersebut dengan hak kuasa yang diterbitkan bagi nasabah tersebut oleh bank. Pelunasan dilakukan dengan bagi hasil yang disepakati, dengan angsuran yang disepakati. Saat ini, Turki memiliki proyek ambisius untuk meningkatkan pangsa dari   participation bank   terhadap sektornya naik hingga 25%. Saat ini, pangsa   participation banking  di Turki ataupun perbankan syariah di Indonesia masih sama-sama 5% (berdasarkan ukuran aset). Participation bank  mempekerjakan   14.565  orang di  973  cabang dari  lima   participation bank  yang beroperasi di Turki deng...